Share This Post

Hewan Kesayangan

Distemper pada Anjing

Distemper pada Anjing

Taksonomi  

Canine Distemper Virus berdasarkan International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV) pada tahun 2009 adalah

  • Ordo : Mononegavirales
  • Famili : Paramyxoviridae
  • Subfamili : Paramyxovirinae
  • Genus : Morbilivirus
  • Spesies : Canine distemper virus

Virus ini menyerang hewan yang termasuk famili  Canidae  (anjing,  dingo,  serigala,  rubah),  Mustelidae (musang,  cerpelai,  sigung,  berang-berang),  Procyonidae  (rakun,  panda),  beberapa Viveridae (binturong), sejumlah besar Felidae (singa, macan, cheetah), dan Tayassu tajacu.

Patogenesis

Penyakit  ini  mudah  menyebar  selama  masa  infeksi  terutama  melalui  rute aerosol, namun tidak zoonosis. Saluran respirasi adalah saluran utama tempat  masuknya  virus  dan  juga  menginfeksi  via  saluran  pencernaan  melalui kontaminasi pakan dan air. Eksudat dari hidung mengandung virus dapat menyebar di udara melalui bersin, lalu virus tersebut masuk ke dalam saluran hidung anjing lain yang dapat diinfeksi  untuk bereplikasi serta menyebar di  dalam  tubuh. Anjing yang umumnya terinfeksi adalah anjing yang tidak divaksinasi, tidak memperoleh   kolostrum   dari   induk  yang sudah  memiliki imunitas,   pemberian vaksinasi yang tidak tepat, imunosuppresi, dan sejarah interaksi dengan hewan yang terinfeksi.

Anjing dengan umur 3 sampai 6 bulan yang paling umum terinfeksi, anjing mengalami demam seminggu pasca infeksi virus namun biasanya tidak teramati. Dua minggu pasca  infeksi,  virus menyebabkan  kerusakan  ringan pada sel-sel saluran pernapasan,  mata,  paru-paru,  dan saluran  pencernaan. Virus bereplikasi pada makrofag  epitel saluran  pernapasan atas  lalu terbawa  melalui jaringan limfatik lokal menuju limfonodus pada tonsil, retrofaringeal, dan bronchial. Cell-associated viremia berakibat infeksi pada seluruh jaringan limfatik yang disertai dengan infeksi pada saluran respirasi, pencernaan, epitel urogenitalia, sistem saraf pusat, dan saraf mata. Penyakit menyebar seiring dengan replikasi virus pada jaringan. Derajat keparahan viremia dan menyebarnya virus ke jaringan lainnya tergantung pada tingkat imunitas tubuh yang spesifik selama periode infeksi .

Gejala

Gejala  umum  yang  teramati  oleh  pemilik  antara  lain  depresi,  kelemahan, eksudat dari mata dan hidung, batuk, muntah, atau diare, namun pada infeksi yang sudah parah dapat teramati gangguan saraf seperti kejang atau ataksia. Gejala  tersebut merupakan infeksi  kombinasi antara  virus  dan  bakteri. Virus distemper yang  bersifat subklinis  dan  dalam  jangka  waktu  yang lama juga dapat menginfeksi  kulit, sehingga telapak  kaki anjing  menjadi keras dan menebal, dan disebut  sebagai  penyakit  “hard  pad”.  Selain  itu,  virus juga menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga merusak kemampuan tubuh  untuk melawan infeksi.

Temuan pemeriksaan fisik dapat berupa suara napas yang keras saat dilakukan auskultasi,  kaheksia,  dehidrasi, dan  peradangan  pada mata  (anterior uveitis, optik neuritis, degenerasi retina,  atau  keratokonjungtivitis) jika infeksi CDV bersifat sistemik. Setengah dari  total  anjing  yang terinfeksi CDV mengalami kerusakan saraf  karena  CDV tertarik dan bereplikasi cepat pada jaringan  saraf. Kerusakan pada saraf mengakibatkan kejang yang disebut sebagai “chewing-gum” seizures karena membuka dan menutup mulut dengan keras secara berulang-ulang.  Gejala  lain  yang  menunjukkan  infeksi  CDV  adalah  mioklonus kepala,  leher,  atau  tungkai. Mioklonus  adalah  kontraksi  ritmik  yang sangat kuat pada otot rangka. Kerusakan pada sumsum tulang dapat mengakibatkan  kelemahan dan  paralisis,  namun kerusakan pada saraf juga dapat  menyebabkan  gerakan  tidak terkoordinasi  dari  kaki. Pada anjing yang pulih dari infeksi CDV dimungkinkan mengalami anosmia persisten atau kehilangan daya penciuman.

Perubahan Patologis

Kerusakan  jaringan  terjadi  karena  infeksi  sekunder  oleh  bakteri.  Kelainan patologis  baik secara anatomi maupun histologi pada anjing  yang  mati akibat terinfeksi CDV dapat ditemukan terutama pada organ pernapasan. Canine Distemper Virus akan membentuk badan inklusi intrasitoplasmik dan intranuklear  pada  sel. Badan inklusi tersebut  terutama ditemukan  dalam  sitoplasma sel epitel pada  saluran  respirasi  dan urinaria, namun juga dapat ditemukan pada sel  otak, sel Sertoli, dan  epitel saluran empedu.

Terapi dan Pencegahan Infeksi  sekunder  oleh  bakteri  dapat  ditangani  dengan  pemberian  antibiotik berspektrum luas, sedangkan untuk gejala diare dan muntah dapat diberikan antidiare, antiemetik, infus cairan elektrolit untuk mengatasi dehidrasi. Anjing akan terlihat normal selama 2 sampai 3  minggu dengan pemberian antibiok hingga munculnya  penyakit  pada otak  dan sumsum tulang belakang jika mengalami kerusakan saraf. Pemberian antikonvulsan dapat dilakukan untuk mengurangi kejang. Perawatan, pemberian pakan yang berkualitas baik dan disukai,  serta  lingkungan yang bebas stress akan membantu meningkatkan selera makan dan menjadi sehat. Penanganan yang dapat dilakukan sangat terbatas, sehingga vaksinasi merupakan cara yang dapat dilakukan untuk  mencegah. Vaksin  untuk mencegah Distemper  mulai diberikan saat anak anjing disapih. Jika induknya sudah divaksinasi atau sembuh dari Distemper,  maka  antibodi  terhadap Distemper akan diberikan kepada  anaknya di dalam susu

Pengobatan

Saat ini belum ada obat khusus untuk anjing yang terinfeksi Distemper, sehingga untuk mendukung kesembuhan anjing dilakukan pengobatan dengan pemberian obat-obat supportif

Pencegahan

  • Lakukan vaksinasi distemper sesuai jadwal
  • Anjing yang sakit dipisahkan di tempat yang berbeda
  • Setelah kontak dengan anjing yang sakit, badan dan baju harus dibersihkan
  • Menjaga kebersihan kendang
  • Bekas kendang anjing yang sakit di lakukan desinfeksi

Share This Post

Leave a Reply