Share This Post

Ternak

Radang Ambing “Mastitis” pada Sapi

Radang Ambing “Mastitis” pada Sapi

Susu merupakan salah satu sumber protein hewani yang dapat meningkatkan gizi masyarakat. Konsumsi susu nasional sebesar 3 juta ton per tahun. Namun, produksi susu nasional hanya memenuhi 30% kebutuhan susu tersebut. Kurang maksimalnya produksi susu di Indonesia salah satunya disebabkan oleh mastitis. Kasus ini sering kali terjadi di peternakan dan dapat menyebabkan penurunan produksi susu.

Mastitis merupakan reaksi peradangan pada ambing yang disebabkan oleh mikroorganisme, zat kimia, luka bakar, atau luka akibat trauma. Peradangan ini menyebabkan meningkatnya protein dalam darah dan sel-sel darah putih di dalam jaringan internaambingPeradangan pada ambing sebagai reaksi tubuh akibat luka dan bentuk perlawanan infeksi oleh mikroorganisme di kelenjarambingagar dapat berfungsi dengan normal. Penyakit ini dapat menyebabkan penurunan produksi susu sampai 20% . Kualitas susu pun menurun karena terjadi perubahan fisik yeng meliputi warna, konsistensi, rasa, dan bau. Penyebab mastitis adalah berbagai bakteri patogen yang masuk ke saluran puting susu dan dapat menular dari satu puting ke puting lainnya melalui pemerahan.

Ada dua jenis mastitis yakni mastitis klinis dan mastitis subklinis. Pada mastitis klinis, radang ambing dapat terlihat dengan jelas, yaitu bengkak, panas, dan sensitive bila disentuh. Secara fisik, susu pun terlihat menggumpal atau encer seperti air serta berubah warna menjadi lebih kuning atau ada nanah dan darah. Namun, peternak belum banyak mengetahui mengenai mastitis subklinis. Pada sapi yang menderita mastitis jenis ini ambing tidak terlihat bengkak, tidak juga panas serta secara fisik susu tidak terlihat adanya perubahan. Jenis mastitis ini paling banyak terjadi dan hanya dapat dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium dan uji-uji khusus seperti AMP (Aulendorfer Mastitis Probe), CMT (California Mastitis Test) dan IPB1.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengendalikan kejadian mastitis subklinis pada sapi perah, salah satunya adalah pemberian antibiotik pada saat kering (dry cow therapy). Selain itu, peternak juga dapat menerapkan celup puting (teat dipping) setelah pemerahan dengan menggunakan desinfektan yang efektif guna mencegah masuknya mikroorganisme patogen ke dalam saluran puting. Manajemen pemerahan yanng baik dapat menekan kejadian mastitis subklinis dan meningkatkan produksi susu

Share This Post

Leave a Reply